Text
Secangkir Harapan
Aspar Paturusi lahir di Bulukumba, Sulawesi Selatan, 10 April 1943. Selain menulis puisi, ia juga dikenal sebagai penulis naskah drama, dramawan, aktor film/sinetron dan novelis. la juga dikenal sebagai pendiri Dewan Kesenian Makassar dan menjadi pengurusnya selama 17 tahun. Anggota/Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta (1990-2002), Wakil Ketua Umum PB Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI) 1990-1993 dan Sekretaris DP Organisasi PARFI 2006-2010.
Terlepas dari sejumlah penghargaan yang telah diperoleh Aspar di tingkat nasional, dia pertama-tama adalah seorang penyair. Dalam pelbagai masalah kehidupan sederhana yang menyentuhnya, Aspar tak henti-hentinya mengguratkan bait-bait puisinya. Itu sudah dilakukannya sepanjang 50 tahun. Dan boleh dikata di ujung tiap puisi dalam tema-tema sesederhana itu, Aspar hampir selalu mengejutkan kita dengan baris-baris bernas penuh makna. Jika Anda sanggup terharu atas lakon-lakon sederhana dari kehidupan, Anda pasti akan membaca kumpulan puisi ini sampai lembar terakhir. (Mochtar Pabottinggi, Penulis)
Aspar adalah penyair produktif yang terus bergulat mencari bentuk pengucapan dalam puisi-puisinya. (Salim Said, mantan Ketua DKJ, mantan Dubes, dan kini Guru Besar Ilmu Politik)
Aspar paham benar kekuatan kata. Padanya, kata menjelma ruang yang sedemikian luas dan mengalir sungai hikmah yang tak habis-habisnya dapat kita timba. Menikmati puisi-puisinya, sering kita seketika menyadari khitah kita sebagai manusia. (Ilham Q Moehiddin, Kritikus dan Penulis Novel Terbaik Republika 2011).
Intensitas yang tetap terjaga dengan baik dan terbukti dengan karya-karya apik Seperti tak ada jeda pada pola ungkapnya. Yang menjadikannya bukan saja penyair yang matang dengan banyak jam terbang. Namun penutur yang piawai untuk berbag pengalaman empiriknya. (Boedi Ismanto SA, Penyair).
Kumpulan puisi ini, merupakan kepedulian seorang Aspar terhadap realita yang terjadi di negeri ini, di saat orang beramai-ramai menyuarakan suaranya melalu demonstrasi yang cenderung anarkis, seorang Aspar mampu "mengetuk-ngetuk hatinya, hati kita dan hati penguasa agar tetap peduli kepada negeri tercinta.' (Helm D. Achmad, Dosen, dan Kolektor Puisi Aspar)
Tidak tersedia versi lain